Perjalanan hari minggu ini awalnya dilakukan dengan niat untuk melihat parade bunga surabaya. Namun di tengah perjalanan, muncullah sesosok makhluk fenomenal nan legendaris ini dengan sepedanya.

sebut saja “ablee” (bukan nama sebenarnya) salah satu mahasiswa Unair yang nyaris lulus sebentar lagi. “lulus itu hanya soal waktu.” tegasnya.
Singkat cerita, Pembicaraan pun mengalir. Saat foto ini diambil, perjalanan saya hari ini ditemani oleh “badut cabul” alias rahman alias mamen (nama pemberian mantannya yang mulai sekarang akan jarang digunakan) alias bendot. Layaknya tiap pertemuan dadakan yang sering terjadi, tentu saja pembicaraan kami adalah seputar kelulusan, objek penelitian, dan kabar kawan-kawan seperjuangan di SMP dan SMA. Termasuk kabar terbaru dari kawan-kawan yang kebebasannya direnggut oleh gadis-gadis pilihan takdir di pelaminan dan kasur pengantin.
setelah acara salaman layaknya lebaran, kami pun berpisah di gang kecil sebelah mcd depan Tunjungan Plaza. Ablee pulang dengan sepedanya, saya dan rahman melanjutkan berjalan dan menemukan pemandangan nanar di jalanan. Parade, telah usai.
“yo lanjut jalan gan, kita perlu 1000 langkah perhari biar gak osteoporosis.” tegas saya. Perjalananan-pun kami lanjutkan ke balai pemuda surabaya. Dan tak lupa, foto-foto. berikut hasilnya:

macet sodara. Ditambah lagi beberapa pasukan kuning yang diterjunkan di tengah kemacetan ini untuk membersihkan sisa-sisa sampah yang ditelurkan warga.

Selesai menikmati sore dan klakson kendaraan bermotor yang memenuhi jalanan, akhirnya saya sampai di balai pemuda dan eureekaaa!! ada pameran lukisan ternyata.

bagi yang tidak tau di mana letak Balai Pemuda, berikut petanya: (padahal cuma mau pamer foto instagram :p )

Pameran ini baru saja dibuka pada hari sabtu tanggal 5 Mei dan rencananya akan berlangsung seminggu. Sayangnya, di beberapa stand terlihat tulisan “no camera allowed” sehingga untuk menghormati hal tersebut, lukisan dan karya-karya luar biasa di sana tidak kami abadikan dalam lensa kamera.
Ada berbagai macam jenis lukisan yang dipamerkan, mulai dari lukisan dengan tema landscape, karikatur, kaligrafi, sketsa wajah, dan bahkan yang dipadukan dengan teknik kolase.
selain itu, demi menjaga segala kemungkinan yang tidak diinginkan, perhelatan ini juga menyediakan pengamanan yang luar biasa, inilah dia “si jago merah”.

Karena suasana telah memasuki petang dan malam menjemput datang, kami-pun sepakat untuk memutuskan pulang. Tapi seperti halnya setiap perjalanan, malam ini saya menutupnya dengan ngopi-ngopi lucu bersama beberapa kawan di salah satu angkringan di jalan Semolowaru. #where one story ends, another begins#

